cerpen, kisah pendek

MANJA

IMG_6230
Dokumen pribadi

 

“Bapak … besok pulangnya jangan malem-malem, ya …” kataku lirih sebelum berangkat kerja.

“Ha?” sepertinya bapak ga denger ucapanku.

Sabtu (18/3) ini, bapak memang akan menyusul mama dan ketiga adikku yang sudah duluan ke rumah saudara, di Ciledug. Pulangnya hari Minggu (19/3), in syaa Allah. Hanya saja, feeling-ku mengatakan bahwa mereka akan pulang seperti biasa, yakni larut malam. Oleh karena itu, aku mewanti-wanti bapak, berharap feeling-ku meleset.

“Hari Minggu, Bapak pulangnya ga malem-malem, ‘kan …?” ulangku sekaligus meralatnya.

Emang kenapa?” tanya bapak sambil sekilas memandangku.

“Aku ‘kan ga enak badan. Jadi, ga mau sendirian,” jawabku pelan dengan wajah mengiba—tapi emang lemes juga, sih.

Sebenarnya, aku ga sendirian, masih ada Ulfa  yang menemaniku di rumah. Hanya saja, berhubung badan lagi ga bisa diajak kompromi, rasa manja ke orang tua—terutama bapak—pun menjadi berlebihan, padahal … kalaupun ada bapak, palingan cuma pengen nyender di bahunya atau minta tangan bapak di letakkan di atas kepalaku. Kelar deh perkara. “Manja,” batinku.

Assalamu’alaykum …” pamitku setelah mencium tangan dan pipi bapak. Kemudian, bapak pun menjawab lembut salamku.

“Jangan pulang malem-malem ya, Pak …” pintaku sekali lagi dalam hati.

.

.

@RainyOrange Afternoon

Sabtu, 18 Maret 2017

 

IMG_6231
Dokumen pribadi
artikel/article, buku, campur, quotes

BUKAN MALAS NULIS

IMG_6929
Photo taken by @azurecca_

Berhubung sang penulis lagi tidak ingin bertele-tele alias malas nulis maka langsung saja ke intinya, ya. Ada dua point yang penulis ingin curhatin, eh, tulisin. Check this out.

Pemotretan

Pada hari Jumat siang, 17 Maret 2017, kami (beberapa akhwat dari lini buku ARWK, buku umum, dan tim promosi) melakukan sesi pemotretan buku untuk tim promosi. Setelah kewajiban kelar, kami pun berfoto ria. Maklum perempuan. Terkadang mengabadikan moment dan diri menjadi kegiatan yang cukup meringankan pikiran menjelang akhir minggu, apalagi mengingat Sabtu ini masih masuk kerja.

“Kita tahu bahwa kita ini pekerja kreatif. Jadi, sebisa mungkin pikiran kita harus tetap hepi. Oleh karena itu, silakan melakukan hal yang membuat pikiran dan diri nyaman—selama tidak keluar jalur dan norma,” kata Kak Shabira Ika (Kepala Bagian Lini Buku Anak Remaja Wanita dan Keluarga), “dan yang penting kerjaan tetap kelar sesuai deadline,” lanjutnya. Hahaha, tetap ya deadline is nomor hiji … Semangat!

“Kita yang penting sersan, serius tapi santai,” kata Kak Ratih (Redaktur Pelaksana Lini Buku Umum). Oke, kakak … meregangkan badan duluuu, yeayy!

 

Cover

Berikut ini adalah ulasan 4 buku terbitan Gema Insani Press—yang kami foto—yang kuambil dari cover—depan dan belakang—masing-masing buku. Kenapa dari cover? Karena penulis lagi malas nulis. Itu kata kuncinya. Wkwkwk~

.
~oOo~
The Power of Women
karya Muhammad Khairu Tha’mah Halabi
~oOo~

Salah satu sahabat wanita yang dijanjikan Rasulullah saw. masuk surga adalah Ummu Aiman. Ia adalah wanita yang mengasuh dan menemani Rasulullah saw. ketika beliau masih kanak-kanak. Ia juga yang menemani Rasulullah saw. dalam melewati masa-masa pahit semasa kecil beliau.

Wanita yang lainnya adalah Ummu Umarah, Ummu Waraqah, Ummu Haram binti Milhan, Ummu Muhammad, Ummu Hisyam, dan lain-lain. Mereka semua telah memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam membantu dakwah Nabi saw., baik semasa di Mekah maupun di Madinah. Mereka adalah wanita-wanita yang luar biasa atau kita sebut The Power of Women.

Karya yang sarat dengan hikmah dan inspirasi dalam kehidupan ini, sayang apabila Anda lewatkan.

.
~oOo~
Perfect Dreamy Wedding
karya Floweria
~oOo~

Menikah? Pasti ribeeet banget, ya, persiapannya? Iya, akan ribet jika kita mempersiapkan semuanya secara mendadak. Jika kita mempersiapkan dengan matang, pernikahan impian niscaya akan terwujud.

“Setiap orang mencari keberkahan dalam hidup, termasuk dalam pernikahan. Islam menuntun kita agar berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah dalam pernikahan agar pernikahan kita memperoleh keberkahan. Buku ini menuntun kita bagaimana menggapai keberkahan dalam pernikahan.” (Dra. Wirianingsih, Msi., Anggota DPR RI periode 2009-2014, Ibu dari 10 anak penghafal Al-Qur’an)

Buku Perfect Dreamy Wedding ini akan memberi wawasan kepada kita bagaimana mempersiapkan pernikahan yang baik sejak awal menurut Islam, baik persiapan nonteknis maupun persiapan teknis. Persiapan nonteknis meliputi persiapan ruhiyah, ilmu/konsepsional, fisik, materi, dan sosial yang dibahas dengan lugas. Begitu pula persiapan teknis yang meliputi pemeriksaan kesehatan jelang pernikahan, penentuan waku dan lokasi, pengurusan administrasi, rias pengantin, undangan pernikahan, konsumsi, dan hal-hal teknis lainnya dibahas secara detail.

Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan:
1. Kuesioner Persiapan Pernikahan,
2. Lembar Panduan Pernikahan dan Final Checklist,
3. Lembar Budgeting Pernikahan.

Lembar-lembar tersebut sangat bermanfaat membantu detail perencanaan pernikahan sehingga urusan teknis maupun nonteknis dalam persiapan pernikahan teratasi dengan baik dan tetap tetap terjaga keberkahannya.

“Buku ini penting dimiliki oleh setiap orang yang menginginkan pernikahannya berjalan lancar dan berkah karena di dalam buku ini, penulis memandu calon mempelai step by step dalam merencanakan pernikahan impian, yaitu bagaimana menjaga, mempersiapkan, dan menyelenggarakan pernikahan yang kokoh visi misinya dan terjaga keberkahan dalam teknis pelaksanaannya.” (Prof. Dr. Irwan Prayitno, S.Psi., M.Sc., Gubernur Sumatra Barat periode 2010-2015, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta)

“Semoga buku yang berisi pelajaran persiapan pernikahan ini bermanfaat bagi para pembaca dan menjadi ladang amal serta ilmu yang bermanfaat bagi penulisnya.” (H. Nizam Zulfikar, S.IP., Juara Favorit Dai Muda Pilihan ANTV tahun 2012, Penulis)

.
~oOo~
Muslimah Sukses Tanpa Stres
karya Dr. Erma Pawitasari, M.Ed.
~oOo~

“Para Muslimah, baik yang masih gadis, janda, para ibu, para calon istri, istri maupun mantan istri perlu membaca buku ini. Demikian pula para lelaki Muslim yang masih awam dengan Islam, para akademisi, serta para aktivis dakwah.” (Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin, M.S.)

Tahukah Anda? Lima penyebab utama kanker payudara adalah polusi udara, kurang tidur, penundaan kehamilan, tidak menyusui anak, dan stres! Data rekam medis RS Kanker Dharmais Jakarta menunjukkan bahwa kanker payudara merupakan kanker paling banyak diderita oleh perempuan Indonesia.

Mengapa Muslimah Indonesia rentan stres, padahal Islam telah memberikan sistem hidup yang memudahkan, melindungi, dan memuliakan kaum perempuan? Buku ini hadir untuk mengajak pembaca menyelami kehidupan perempuan dan melihatnya dari perspektif yang lebih komprehensif. Meliputi pembahasan kemuliaan perempuan, karier perempuan, jodoh dan wali perempuan. ‘Tak hanya mengurangi level stres, buku ini dapat menjadi amunisi dalam menghadapi perang pemikiran, mejadikan kaum Muslimah makin bahagia dan bangga dengan agamanya.

Selain itu, buku ini bisa pula menjadi referensi fiqih keluarga yang disajikan dengan menyentuh langsung realitas kekinian para perempuan dan memberikan alternatif solusi dari banyak masalah perempuan Indonesia berdasarkan Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin.

.
~oOo~
Bukan Pernikahan Cinderella
karya Iwan Januar
~oOo~

Yeayy, ini buku dengan paduan warna yang kusukai, yakni warna biru malam bermandikan bintang—untuk cover—dan—untuk isinya—warna orange. Oke, lanjut …

Wahai pengantian, pemburu rahmat Allah, jejakkan kakimu berdua di jalan ketaatan karena bukan kemegahan rumahmu yang mendatangkan kebahagiaan, bukan mewahnya hidangan yang hilangkan kelaparan, juga bukan indahnya pakaian yang tutupi jiwa yang kekurangan, tetapi keberkahan dan rahmat-Nya jua yang akan meliputi jiwa yang kurang ….

Cinta sejati menuntut kesejatian cinta. Cinta yang mengalirkan perhatian, kepedulian, kesetiaan, persahabatan, kehangatan, dan kemesraan. Cinta yang melebur segala perbedaan menjadi satu. Cinta yang meramu segala kelemahan dan kekurangan menjadi kelebihan. Saat engkau meminangku, saat engkau mengikrarkan janji suci yang mengikatku sebagai pengantinmu, engkau telah memiliki hatiku seutuhnya.

Allah telah menghalalkan aku bagimu dan menghalalkan engkau bagiku. Pilihan telah menyatukan kita dalam sebuah impian dan cita-cita bersama. Jadikan aku belahan jiwamu, jadikan aku teman perjalananmu. Berbagilah tawa dan air mata denganku. Genggamlah hatiku dan tuntun langkahku menapaki terjalnya perjalanan. Aku bukanlah Cinderella bersepatu kaca, engkau bukanlah sang pangeran berkuda putih. Kita hanyalah sepasang pengantin zaman ini, yang mencoba meraih sakinah di tengah gelombang ujian rumah tangga.

Sebuah buku yang hebat untuk pasangan hebat. Buku rujukan bagi pasangan yang hendak berumah tangga atau yang baru menikah. Mulai dari masalah jatuh cinta, patah hati, perjodohan hingga pernikahan—dan segala problematika rumah tangga—semua dikupas dengan gaya menarik dan mudah dicerna dalam bingkaian syar`i. Selamat memiliki dan menikmati buku Bukan Pernikahan Cinderella.

Anyway, setelah kupikir-pikir, sepertinya aku bukan lagi malas nulis, melainkan malas mikir, wkwkwk

Ok, berhubung sudah ga tau lagi apa yang harus kutulis, sekian dulu ya untuk kali ini …  Bye-bye … Pada kesempatan lain, semoga aku bisa menulis ulasan buku dengan mood yang lebih baik lagi. Aamiin allahumma aamiinSee you!

.

.

@RainyOrange Afternoon

Sabtu, 18 Maret 2017

 

 

#puitis, cerpen, kisah pendek, Poem, poetry, puisi

KENAPA?

~oOo~
Apa itu bosan?
Apa itu lelah?
Apa itu jengah?
Apa itu muak?
Apa itu jera?
~oOo~

“Kamu tidak bosan? Kamu tidak lelah? Kamu tidak jengah? Kamu tidak muak? Kamu tidak jera?”

Bibir rapat. Enggan menjawab deretan pertanyaan tersebut.

“Mengapa kamu tidak bosan? Mengapa kamu tidak lelah? Mengapa kamu tidak jengah? Mengapa kamu tidak muak? Mengapa kamu tidak jera?”

Kepala menunduk. Makin ‘tak ingin mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Kapan kamu akan bosan? Kapan kamu akan lelah? Kapan kamu akan jengah? Kapan kamu akan muak? Kapan kamu akan jera?”

Terpejam kuat. Air mata mulai menitik.

“Kapan kamu akan berhenti?”

Spontan mataku terbelalak.

“Berhentilah sekarang juga!”

“Tidak!” ketusku. Mendengar jawabanku, dia pun ikut terbelalak.

“Kenapa?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Apa alasanku harus berhenti?” emosiku memuncak. “Jika cinta ini datang dari-Nya, Dia pula yang akan mengurusnya. Dia-lah yang berhak melanjutkan atau menghentikan cintaku ini. Bukan kamu!” ceramahku.

~oOo~
Mengapa harus bosan?
Mengapa harus lelah?
Mengapa harus jengah?
Mengapa harus muak?
Mengapa harus jera?

Mengapa harus merasakan itu semua jika aku memang ‘tak bisa merasakannya?

Mengapa harus berhenti jika kuyakin bahwa Dia-lah yang berhak menentukan,
Kapan aku harus lanjut dan kapan aku harus berhenti?
~oOo~

 

 

 

.

.

@RainyOrange Morning

Jumat, 17 Maret 2017

#puitis, Poem, poetry, puisi

PASRAH 2

Senyum. Senyum melengkung di wajah. Wajah yang kuletakkan dalam benak. Ingin kutersenyum. Sangat sangat ingin memberi senyum kepadanya, tetapi sayang … hanya mampu sebatas angan.

Bahagia. Aku harus bahagia atau bagaimana? Bagaimana mengekspresikan bahagia dalam kegelisahan ini? Bahagia yang disertai rasa perih.

Datar. Mataku melihat sebuah kalimat. Tampak datar. Aku penasaran, apakah hatinya pun sedatar kalimat itu? Begitu tenang sekaligus membuatku penasaran.

Bingung. Kupejamkan mata seraya menarik nafas perlahan lalu mengembuskannya. Dingin. Kelopak mata terbuka. Pilihan yang teringat oleh otakku hanya dua, yakni negative thinking dan positive thinking. Lesu. Tidak adakah yang lain?

“Serahkan kepada-Nya,” ucap hati kecilku memutuskan.

 

 

.

.

@RainyOrange Morning

Kamis, 16 Maret 2017

#puitis, Poem, poetry, puisi, surat

TANPA JUDUL

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua

 

Lirik lagu riang, ringan, dan menenangkan. Ya, setidaknya menenangkan untuk diriku sendiri.

Langit sore ini gelap karena hujan terus-menerus mengguyur bumi. Belum berhenti sejak sejam yang lalu.

“Lapar,” batinku. Perut yang ‘tak sinkron. ‘Tak nyambung dengan suasana hati saat ini.

Helaan nafas berkali-kali kulakukan seraya menatap layar. Satu per satu huruf terketik meski belum tahu akan seperti apa akhirnya. Masih bingung, apa yang seharusnya kuungkapkan? Inginnya to the point, tetapi …

Bukan. Aku bukan sedang ragu. Hanya sedang ingin mencoba mengungkapkan dengan cara lain, dengan kata-kata lain. Ingin bisa menuliskannya dengan lebih indah dan elegan. “Padahal aku sendiri tidak ada elegan-elegannya,” cetus hati.

Hmm, hujan menyenangkan, begitu pula dengan Yang Menurunkannya. Dia selalu tahu bagaimana menyenangkan hamba-hamba-Nya.

Allah, begitulah aku menyapa-Nya. Yaa Rahmaan Ya Rahiim, begitulah aku mendendangkan-Nya.

Allah … hujan ini rahmat-Mu yang menyenangkan. Jadi, kumohon, di antara para malaikat-Mu yang tengah bertebaran di bumi, tolong berilah kabar baik, menyenangkan, dan menyejukkan untukku. Ya, kabar baik, menyenangkan, dan menyejukkan tentang perasaanku kepada dia, hamba-Mu, yang sampai saat ini masih sangat kucintai … hamba-Mu yang sampai saat ini masih sangat kuinginkan menjadi suamiku dunia akhirat.

 

Tik tik tik, bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua

 

 

~oOo~

Jika cinta ini salah, ‘tak akan aku berani menghadapi ketakutanku

Jika cinta ini ‘tak benar,  ‘tak akan aku berani mengungkapkan perasaanku

Jika cinta ini ‘tak seharusnya hadir, ‘tak akan aku berani mengharapkan dia untukku

 

Aku yakin maka aku nyatakan

Aku yakin maka kuutarakan

Dan karena aku yakin maka kupertahankan

 

Allah …

Engkau tahu itu, bukan?

~oOo~

 

 

.

.

@RainyOrange Afternoon

Jumat, 10 Maret 2017

cerpen, kisah pendek

HUG AND KISS SERIES

Big Hug

 

Seperti biasa, kedua tangan ‘tak bisa melepaskan kebiasaan memeluk leher lalu menempelkan kepala dan badan ke punggung bapak. “Nyaman,” batinku. Seperti biasa pula, bapak selalu diam tenang membiarkan tingkahku yang satu ini. Sekali pun bapak tengah duduk di bangku, tetap kucari celah untuk memeluknya “seenakku”. Selama adzan Isya berkumandang, selama itu pula aku menyandarkan diri ke bapak. ‘Tak bosan . Sangat menyenangkan dan menenangkan. Ya, jika ada pertanyaan mengenai hal yang kusukai, aku akan menjawab, “Memeluk bapak,” dengan mantap. Hp yang habis baterainya, butuh di-charge. Memeluk  bapak, seperti asupan baru tiap kali “bateraiku” melemah atau hampir habis. Memberiku tenaga dan udara baru.

 

“Kalau sayang sama bapak, lo ‘setoran’—pertama—sekarang (sebelum shalat Isya),” titah bapak seraya agak mengguncangkan badannya, membuat pelukanku mengendur.

 

Jleb!

 

“Kena, deh,” batinku sambil melirik adik-adikku yang tersenyum bahagia karena nomor urut pertama telah terisi.

Tarik nafas … buang nafas …

 

 

(8 Maret 2017, Malam)

 

~oOo~

 

Long Kiss

 

“Assalamu’alaykum …” salamku seraya membuka pintu.

“Wa’alaykumussalam …” lirih.

“Bapaaaaaaaak!” panggilku, melonjak kegirangan karena melihat bapak yang sedang duduk di bangkunya. Cupppppp, kecupan yang sangat lama kudaratkan di pipi bapak. Spontan. ‘Tak peduli apakah bapak risih atau tidak, berulang kali kulakukan hal tersebut sampai akhirnya bapak menyerah dan berkata, “Emmm, udah ah.”

“Hahaha,” tawaku seraya lari ke dapur menuju, “Mamaaaaaaa!”

Kejadian yang sama—kepada bapak—pun kuulang kepada mama. Fufufu~ love it.

 

(8 Maret 2017, Sore)

 

~oOo~

 

Hug and Kiss

 

“Jul, itu anaknya suruh berenti napa,” ucap mama kepada bapak, saat melihatku terus-terusan meluk dan nyiumin pipi bapak. Mendengar ucapan mama, sejenak aku berhenti lalu hanya nyengir.

“Inget umur,” kata mama, giliran aku yang kena. Nyengir lagi, “Bilang aja Mama ngiri …” balasku.

“Dih, ngapain gue ngiri?” sergah mama. “Jul, itu suruh anaknya berenti. Ga risih apa?” lanjut mama.

Bapak yang sedari tadi duduk sambil senyam-senyum mendengarkan celotehan kami, akhirnya membuka suara, “Anak orang tuh baru gue risih. Lah, ini anak sendiri. Ngapain risih?”

“Yeaayyy!” aku melonjak kegirangan lalu cupppp, kecupan mendarat lagi, pelukan semakin erat, dan bapak pun semakin terbahak. Mama? She just pasrah …. #PukpukpukMama

 

(Februari 2017, Sore)

 

~oOo~

 

The Death Hug

 

“Cici.”

Kepalaku mendongak. “Kenapa sih?” tanyaku.

“Ga malu apa?” tanyanya balik dengan mimik wajah rada sebal, tapi lucu, imut. Semoga ini tulisan ga dibaca sama Ulfa. Bisa melayang dia karena dibilang lucu, imut kaya marmut, eh. Hahaha.

“Ngapain malu? ‘Kan bapak sendiri ini,” kilahku sambil tetap dalam posisi memeluk bapak.

“Ish. ya tapi, ‘kan ….”

“Bilang aja pengen juga,” seringaiku, “kalau mau meluk juga mah meluk aja. Pake malu-malu …”

“Oh,” aku teringat sesuatu, “Pak, Ulfa ‘mau’ tuh,” jailku seraya melirik bapak. Aku pun perlahan melepaskan pelukan.

“Deh, apaan? Lagian, kalau Ulfa yang mau—meluk atau minta dipeluk—mah wajar. Lah, ini cici …” cerocosnya. Dia ‘tak sadar bahwa bapak sedang—tersenyum—berjalan mendekati Ulfa. Aku? Duduk manis menggantikan posisi bapak di bangku kesayangannya.

“Sini sayang …” ucap bapak seraya mengusap muka Ulfa dengan satu tangannya.

“Em,” Ulfa berusaha menghindar, “apaan sih, Pak?” lanjutnya sambil menahan tawa.

Bapak makin beraksi. “Sini …” ucapnya makin lembut. Kini, kedua tangan bapak mengusap kedua pipi chubby-nya Ulfa.

“Ga!” Ulfa semakin menghindar. “Eemmphh,” berusaha menutup rapat mulutnya. Mukanya berusaha dialihkan membelakangi bapak, tetapi kedua  tangannya tetap bertarung dengan tangan bapak. Ulfa menahan sekaligus berusaha melarikan diri, sedangkan bapak berusaha menarik Ulfa.

Perempuan sama laki-laki, siapa yang paling besar tenaganya? Secara logika, pastilah laki-laki. Itu pula yang terjadi antara Ulfa dan bapak. Hihihi, makin seruuuuu.

“Mamaaaaaaaa!” Ulfa mencari pertolongan dengan memanggil mama yang entah lagi di mana dan ngapain.

“Sini ga!” titah bapak dengan wajah berseri-seri, makin merasa asik dengan “mainannya”.

Singkat cerita, setelah beberapa menit bergulat, Ulfa pun tumbang. Ulfa mencari perlindungan dengan berlutut di lantai, membentuk tempurung kura-kura, mengamankan tubuhnya, terutama wajahnya. Namun, sia-sia. Tetap saja Ulfa kalah dari tenaga bapak yang makin bersemangat dari menit ke menit. Bapak berhasil membalikkan tempurung kura-kura ala Ulfa.

 

Hening…

 

1 detik …

2 detik …

3 detik …

 

“KYAAAAAAAAAA!” Ulfa menjerit. Jeritan akibat kehororan bapak.

Hahahaha, perutku sakit, kebanyakan ketawa. Ulfa lari ke dapur sambil nangis. Suara air dari keran kamar mandi terdengar mengucur deras. Sesekali dia berteriak sambil menangis. “Huaaaaaaaaaa,” jeritnya di antara suara Ulfa yang sedang mencuci muka dan cuci mulut. Iya, cuci mulut dalam artian sebenarnya. Hahaha.

Mukanya basah kuyup. Bapak hanya kembali duduk dan tertawa sembari memijit-mijit rokoknya yang belum dibakar.

“Bau tau!” omelnya kepada bapak yang sedari awal bertelanjang dada.

“Emang enak dipelukin (baca: diketekin) …?” balasku sambil tersenyum lemas, ‘tak peduli dengan Ulfa yang masih cemberut sambil mengusap mukanya dengan handuk.

“Astaghfirullah … ketawa mulu. Banyak-banyak istighfar dah nih,” batinku.

 

(Februari 2017, Sore)

 

~oOo~

 

.

.

@RainyOrange Afternoon

Kamis, 9 Maret 2017

#HugAndKissSeries

#MamaBapakUlfa

#Mama

#Bapak

#Ulfa

#TulisanIseng

#EBInyaOffDulu

artikel, cerbung, cerpen

AURA KEHIDUPAN

Jika cinta menyerupai air pada beberapa tabiat dasarnya, sifat utama air yang melekat padanya adalah fakta bahwa air adalah sumber kehidupan. Jika cinta adalah gagasan tentang bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih baik dan tindakan utamanya adalah memberikan untuk menumbuhkan, kekuatan pesona utama seorang pecinta adalah aura kehidupan yang memancar dari dalam dirinya.

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Ia membuat orang-orang di sekelilingnya merasakan denyut nadi kehidupan, merasakan hamparan keindahan hidup, merasakan alasan tentang mengapa mereka hidup dan harus melanjutkan hidup, merasakan alasan untuk bertumbuh demi merakit pemaknaan tiada henti terhadap kehidupan. Ia, intinya, membuat orang-orang di sekeliling merasa hidup sebab ia menebar benih kehidupan di ladang hati mereka.

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Sebab ia hidup. Dan, hidup itu nyata di setiap jengkal tubuhnya, di setiap detak jantungnya, di setiap hembusan nafasnya, di setiap langkah kakinya, di setiap uluran tangannya, di setiap kedipan matanya, di setiap kata dan suaranya. Gagasan seluruhnya adalah tentang kehidupan yang lebih baik. Niatnya, seluruhnya adalah penumbuhan yang membuat hidup lebih baik.

Aura kehidupan. Ya, aura kehidupan. Sebab ia memiliki dan menggabung tiga pesona utama para pecinta: pesona raga, pesona jiwa, pesona ruh. Ketiga pesona itu terbingkai rapi dalam sebuah “akal besar” yang menerangi kehidupannya dan kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Maka dari itu, mendekat-dekatlah padanya, niscaya engkau ‘kan merasai betapa air kehidupan serasa mengalir di setiap sudut jiwa dan ragamu. Maka dari itu, tataplah matanya, niscaya engkau ‘kan merasai gairah kehidupan yang memberimu semangat baru untuk terus hidup, terus melanjutkan hidup. Maka dari itu pula, dengarkanlah kata-katanya, niscaya engkau ‘kan merasai betapa engkau layak dan pantas mendapat kehidupan berkualitas, kehidupan yang lebih baik. Jika Tuhan mengizinkan engkau merasakan sentuhannya, niscaya engkau ‘kan merasai betapa air kehidupan mendidih dalam tubuhnya. Jika Tuhan memperkenankanmu hidup berlama-lama dengannya, niscaya engkau ‘kan merasai betapa perlindungan dan penumbuhannya membuatmu terengkuh dalam rasa aman dan nyaman.

Engkau bahkan tidak pernah begitu yakin tentang pesona apa yang pertama kali menawanmu. Apakah kulit hitam yang tidak dapat menyembunyikan cahaya matanya? Atau ketegasan sikap yang tidak dapat merahasiakan kebaikan hatinya? Atau kelembutan bawaan yang tidak sanggup menutup-nutupi keberaniannya? Atau diam panjang yang tidak mampu menghalangi ilmu dan wawasannya? Atau badan kurus yang dijelaskan oleh puasa dan pengendalian dirinya? Atau? Tidak! Semua tampak menyatu dalam dirinya: ruh yang halus, jiwa yang lembut, terbungkus dalam raga yang kukuh, terangkai dalam perilaku yang terbimbing akal besarnya. Akan tetapi, itu semua ada dalam dirinya. Ketika ia keluar, ia hanya memancarkan satu hal, yakni aura kehidupan. Itulah yang engkau rasakan dan yang mungkin sekali tidak engkau ketahui asal muasal dan akarnya dalam dirinya. Ia bukan sebuah sebuah profil sempurna, ia hanya sebuah kehendak yang lebih nyata. Ia bukan nabi yang ‘tak mungkin salah, ia hanya sebuah tekad perbaikan berkesinambungan yang ‘tak ada henti-hentinya. Dan, itulah aura kehidupan: gairah yang tidak pernah selesai.

 

.

.

SERIAL CINTA by Anis Matta

#SerialCinta

#AuraKehidupan

#50

artikel/article, cerpen, kisah pendek

INDAHNYA CINTA JIWA

Tidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia, seperti saat-saat kita ia sedang jatuh cinta. Bukan karena dunia di sekliling kita berubah pada kenyataannya, melainkan saat-saat jatuh cintalah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia di sekeliling kita. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu memang cantik pada kenyataannya, tetapi cinta kita kepadanya yang membuat ia cantik di mata kita.

Saat jatuh cinta adalah saat di mana persepsi kita mengalami shifting pada semua realitas yang ada di sekeliling kita. Kadang, kita mungkin mengelabui diri sendiri. Namun, itu puncak subjektivitas yang justru mengubah kita menjadi lebih positif dalam cara kita memandang segala sesuatu, dan di situlah letak keindahannya. Seperti indahnya subjektivitas pada dunia anak-anak bahwa bagi mereka, realitaslah yang mereka persepsikan. Bukan realitas yang ada di luar sana, seperti yang dilihat oleh orang dewasa. Bagi anak-anak, bangku bisa dipersepsikan sebagai rumah. Tongkat bisa dipersepsikan sebagai senjata. Dunia menjadi sangat ringan dan fleksibel di mata mereka. Oleh karena itu, dunia anak selalu indah, selalu penuh kenangan. Begitu pula saat kita jatuh cinta, shifting pada persepsi kita membuat dunia serasa jadi realitas lain yang begitu indah. Itu membawa kenyamanan di rongga dada kita. Itu karena perasaan kita seketika berbunga-bunga, seperti kata Ibnu Hazem, “Ruh kita seketika jadi ringan dan lembut. Badan kita seketika jadi wangi. Senyum kita seketika mengembang lebar. Benci, dendam, dan angkara murka seketika lenyap dari ruang hati kita, dan tiba-tiba saja yang bukan penyair jadi penyair, yang tidak biasa bernyanyi jadi penyanyi.”

Suatu saat, seorang raja bingung menyaksikan putra mahkotanya begitu pemalas, apatis, tidak bergairah, tidak berminat dengan ilmu pengetahuan, bahkan tidak bisa pidato. Ia gundah karena putra mahkotanya sama sekali tidak layak menjadi raja. Maka dari itu, sang raja memerintahkan seorang dayang cantik istana untuk menggoda sang putra mahkota. “Bilang kepadanya,” pesan sang raja pada dayang cantik, “‘aku sangat mencintaimu dan bersedia jadi permasurinya.’ Kalau hatinya sudah berbunga-bunga, bilang lagi padanya,” lanjut sang raja, “tapi ada syaratnya. Kamu harus lebih bersemangat, lebih rajin, dan mau menyiapkan diri jadi raja, dan aku percaya kamu bisa.” Firasat sang raja ternyata benar. Putra mahkotanya seketika bangkit berubah. Ia mengubah penampilannya jadi keren dan wangi, ia mempelajari berbagai macam ilmu, ia tampil berpidato, dan ia menulis. Saat jatuh cinta telah mengubah persepsi ia, yakni persepsi tentang dirinya dan dunianya lalu meledakkan semua potensinya.

Shifting pada persepsi mengembalikan sisi kekanakan kita saat kita jatuh cinta. Itu keindahan yang mempertemukan kita dengan sisi dalam kemanusiaan kita: subjektif, melankolis, kekanakan, tetapi positif dan indah.

 

 

.

.

SERIAL CINTA by Anis Matta

#SerialCinta

#IndahnyaCintaJiwa

#35

artikel, cerpen, kisah pendek

CINTA MISI

Sang Khalifah termenung gundah. Sedih. Tampaknya belum ada tanda-tanda bahwa kelaparan yang melanda kota Madinah akan segera berakhir. Puluhan orang meninggal sudah. Di tingkat operasional, rasanya semua upaya sudah ia lakukan. Akan tetapi, masih adakah upaya lain yang mungkin ia lakukan?

Tidak jelas betul hubungannya. Namun, sang khalifah merasa bahwa ia membutuhkan tekad lebih besar. Cinta kepada rakyat harus diekpresikan lebih nyata. Perasaan itulah yang mengantarnya pada keputusan kecilnya: selama kelaparan ini masih berlangsung, Umar bin Khattab tidak akan membiarkan seorang pun dari anggota keluarganya untuk makan daging dan tidak boleh menggauli satu dari ketiga istrinya. Tidak ada korelasi teknis. Akan tetapi, sebagai pemimpin, Umar telah menyatakan tanggung jawab dan kepedulian kepada rakyatnya. Karena ia terlibat. Sangat terlibat.

Itu sebagian penampakan dari cinta misi. Ini buah keluhuran jiwa dan keyakinan yang kuat terhadap sebuah misi. Cinta pada sebuah misi mendorong kita mencintai semua orang dan pekerjaan yang ada di sepanjang jalan menuju misi itu. Semua orang. Semua pekerjaan. Di sini, tidak penting betul siapa penumpangnya dan jalan mana yang harus dilalui.

Keluhuran misi menguasai jiwa sang pecinta dan membuat perasaan kepada orang yang kita cintai jadi beda. Di sini, kita tidak sedang mencintai sebuah “bentuk”. Yang kita cintai adalah “gerak” yang lahir dari bentuk itu: gerak dari “manusia” sebagai sebuah “entity” di alam raya. Oleh karena itu, beda warna adalah variasi yang indah, beda karakter pun kekayaan hidup. Semua niscaya karena kita memerlukannya untuk melukis misi di atas kanvas kehidupan kita.

Hubungan yang terbentuk dari cinta ini adalah penyatuan pada orbit pikiran. Perasaan kita bergerak mengitari orbit itu. Perasaan adalah fungsi pikiran. Ia lahir, bergerak, dan meliuk seperti seorang penari mengikuti alur lagu. Orang yang kita cintai tidak harus memiliki perasaan yang sama. Para pecinta hanya berpikir bagaimana mencintai. Mereka tidak mencintai “orangnya”. Mereka mencintai “entity”-nya sebab entity itu merupakan fungsi pencapaian misi.

Cinta inilah yang ada dan harus ada, misal di kalangan para duat, ulama, mujahidin, guru, pekerja sosial, pemimpin politik, seniman, wartawan, dan lain-lainya. Karena cinta ini tertuju pada gerak, bukan bentuk maka semua pekerjaan yang terkait dengan pencapaian misi pun jadi niscaya.

Misalnya, Khalid bin Walid. Ia mencintai “jihad”. Ia bukan menikmati “saat-saat membunuh orang”. Ia mencintai “pekerjaannya”. Oleh karena itu, niscaya untuk mencapai misi dakwah maka ia menikmati kesulitan-kesulitan di jalan tersebut, lebih dari apa pun juga. “Berada pada suatu malam yang dingin membeku, dalam sebuah pertempuran, lebih aku sukai daripada tidur bersama seorang gadis pada malam pengantin.”

 

.

.

SERIAL CINTA by Anis Matta

#SerialCinta

#CintaMisi

#27

artikel/article, cerpen, kisah pendek

BIAR DRAMATIS JADI MANIS

Puisi yang seadanya memang tidak memberi rasa apa-apa. Puisi perlu greget. Perlu entakan. Perlu dramatisasi. Begitu pula ungkapan cinta. Cinta hanya bekerja kalau ia membara dan baranya meletup-letup lewat kata.

Qur’an tidak mengingkari itu. Virus penyair yang disebut Qur’an, sebenarnya, terletak pada kadar kebohongan yang sering menyertai dramatisasi itu. Begitu pula ungkapan rasa cinta yang terlalu berlebihan sering mengandung kebohongan. Bisa karena tidak berakar di hari, bisa pula karena memang tidak mengandung kebenaran. Mungkin juga berakar di hati, tetapi tidak mengandung kebenaran atau mengandung kebenaran, tetapi tidak berakar di hati. Benar, tetapi tidak ada di hati adalah kebohongan. Tidak benar, tetapi ada di hati adalah kesalahan. Yang terakhir, misal lagu berikut ini.

 

Semua yang ada padamu

Oh, membuat diriku tiada berdaya

Hanyalah untukmu

Hanyalah bagimu

Seluruh hidup dan cintaku

 

Ungkapan itu mungkin berakar di hati, tetapi mengandung makna pengabdian dan penyerahan diri yang total kepada sang kekasih. Namun, itu tidak boleh terjadi dalam cinta jiwa atau cinta sesama manusia. Itu hanya untuk Allah SWT.

Di sinilah letak tantangan bagi para pecinta, bagaimana menemukan ungkapan yang benar dan tepat bagi bara cinta yang meletup-letup dalam jiwa? Yang pertama, tentu saja memastikan persoalan dasarnya, apakah memang ada bara dalam jiwa? Ini jelas sangat mendasar untuk memastikan “tidak ada dusta di antara kita”.

Yang kedua adalah menemukan kata yang benar dan tepat. Benar pada maknanya, tetapi tepat melukiskan suasana jiwa. Ini membutuhkan penghayatan jiwa yang dalam, keakaraban dengan diri sendiri yang kental, cita rasa keindahan dan kekayaan bahasa.

Melukis bara cinta dalam jiwa memang membutuhkan kata yang kuat agar baranya nyata dalam pandangan sang kekasih. Namun, kita harus menakar dengan objektif, seberapa panas bara yang hendak kita lukis. Ini untuk memastikan bahwa kata tidak melampaui panasnya bara atau kata tidak melukis semua panas bara secara utuh.

Akhirnya, memang kejujuran dan kebenaran adalah kata kunci di balik dramatisasi cinta yang manis. Hanya itu. Jika tidak, pasti akan ada kesalahan dalam bahasa cinta kita. Tidak mudah memang, tetapi begitulah cinta. Selalu punya syarat sendiri.

 

.

.

SERIAL CINTA by Anis Matta

#SerialCinta

#BiarDramatisasiJadiManis

#39